-->

Pengertian dan Jenis-Jenis Konjungsi

- 8/12/2017
Konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa (Ramlan, 2008:39). Tanpa kehadiran konjungsi, adakalanya pertalian makna yang dinyatakan tidak jelas, sehingga informasi yang disampaikan kurang padu.

Ramlan (2008:39) menjelaskan bahwa berdasarkan sifat hubungannya, konjungsi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. Konjungsi koordinatif ialah konjungsi yang menghubungkan klausa setara, sedangkan konjungsi subordinatif ialah konjungsi yang menghubungkan klausa yang tidak setara. Pada penelitian ini, penulis menitikberatkan objek penelitian pada konjungsi koordinatif. Konjungsi ini digunakan dalam kontruksi kalimat majemuk setara. Alwi (2003:297) menjelaskan bahwa konjungsi koordinatif agak berbeda dengan konjungsi lain karena konjungsi ini, di samping menghubungkan klausa, juga dapat menghubungkan kata.
Konjungsi atau Kata Hubung
Penggunaan konjungsi terdapat pada bahasa tulis dan bahasa lisan. Pada ragam bahasa tulis dapat ditemukan dalam surat kabar, majalah, tabloid, novel, cerpen, dan sebagainya. Salah satu ragam bahasa tulis yang akan dijadikan sumber data penelitian ini ialah ragam bahasa tulis pada surat kabar, yaitu surat kabar harian umum Haluan. Harian umum Haluan termasuk salah satu surat kabar lokal tertua di kota Padang. Selanjutnya, H. Basrizal Koto dalam artikelnya (2012) menegaskan bahwa “usia 64 tahun, tentu bukanlah terbilang muda lagi. Untuk ukuran manusia, itu adalah umur yang sudah cukup tua. Harian umum Haluan sebagai salah satu dari sembilan media cetak tertua di Tanah Air telah melalui proses yang cukup panjang.” Selain itu, surat kabar harian umum Haluan ini banyak menyampaikan informasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat kota Padang. Dalam penyampaian informasi wartawan harian umum Haluan menggunakan ragam bahasa jurnalistik yang jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat (pembaca) dengan ukuran intelektual minim, sehingga mereka yang membaca dapat menikmati isinya.

Menurut Badadu (1988:138) dalam jurnal Kurniawan mengatakan bahwa bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat yang khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, dan jelas. Ciri-ciri tersebut harus dipenuhi oleh bahasa jurnalistik, mengingat surat kabar dibaca oleh lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya, dari masyarakat yang berpendidikan dasar sampai dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi. Di samping itu, tidak semua orang bisa meluangkan waktunya untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk bisa menyampaikan semua informasi yang dibawanya kepada pembaca secepatnya. Dengan kata lain, bahasa jurnalistik lebih mengutamakan daya komunikasinya.

Dalam harian umum Haluan, berdasarkan observasi penulis banyak ditemukannya penggunaan konjungsi koordinatif bila dibandingkan dengan konjungsi yang lain (konjungsi subordinatif). Selain itu, sepengetahuan penulis yang mengambil konjungsi sebagai objek penelitian pada harian umum Haluan belum ada. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk memilih objek ini dengan menggunakan sumber data harian umum Haluan pada kolom Khas (salah satu nama rubrik).

Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan konjungsi koordinatif dan dalam harian umum Haluan pada kolom Khas yang berjudul “Penderita Jantung Berharap Kartu Jamkesmas”.
  1. Di tahun 1995 ibunya meninggal dunia dan pada awal tahun 2012 ayahnya pun telah tiada . . . . (Haluan/KK/28/2/13)
  2. Kini mereka hidup berdua tanpa ayah dan ibu . . . . (Haluan/KK/28/2/13)
Contoh data (1 dan 2) di atas merupakan kalimat majemuk setara. Masing-masing kalimat majemuk setara tersebut menggunakan konjungsi koordinatif dan. Kalimat majemuk setara pertama adalah Di tahun 1995 ibunya meninggal dunia dan pada awal tahun 2012 ayahnya pun telah tiada. Kalimat majemuk setara kedua adalah Kini mereka hidup berdua tanpa ayah dan ibu.

Data (1) adalah kalimat majemuk setara yang terdiri atas dua buah klausa. Klausa pertama merupakan klausa bebas, yaitu di tahun 1995 ibunya meninggal dunia. Klausa kedua juga merupakan klausa bebas, yaitu pada awal tahun 2012 ayahnya pun telah tiada. Klausa bebas pertama dihubungkan oleh konjungsi koordinatif dan dengan klausa bebas kedua. Artinya, gabungan antara klausa bebas pertama dengan klausa bebas kedua membentuk sebuah kalimat majemuk setara. Pertalian semantik yang ditandai oleh konjungsi koordinatif dan pada data (1) ini terlihat bahwa konjungsi koordinatif dan menandai pertalian semantik „penjumlahan‟.

Pada data (2), konjungsi koordinatif dan terlihat menggabungkan dua buah kata benda, yaitu kata ayah dan ibu. Namun, sesungguhnya pada kalimat tersebut mengalami hasil proses penggabungan dua buah klausa bebas yang disertai pelesapan. Proses penggabungan dua buah klausa bebas pada kalimat majemuk setara tersebut ialah klausa bebas kini mereka hidup berdua tanpa ayah digabungkan dengan klausa bebas kini mereka hidup berdua tanpa ibu dengan pelesapan tiga buah fungsi, yaitu fungsi Ket ialah kini, fungsi S ialah mereka, dan fungsi P ialah hidup berdua. Kalimat majemuk setara pada kalimat kedua ini juga menyatakan pertalian semantik„ penjumlahan‟.

 

Masukkan Kata Kunci Pencarian Anda di Sini