Perkembangan Pemikiran Filsafat Spiritualisme Kuno

- 8/09/2017
Sejarah menunjukkan bahwa kini filsafat tidak lagi membawa pemikiran mengenai adanya subjek besar sebagaimana masa lalu. Kemajuan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan alam, telah
menggoyahkan dasar-dasar pemikiran filsafat. 
Filsafat
Filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan dan perekat kembali berbagai macam ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai dengan perputaran dan perubahan zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui salah satu cerita dalam kategori filsafat spiritual kuno. Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita lahirnya Zarathusthra, dari keluarga sapitama, yang lahir di tepi sungai, yang ditolong Ahura Mazda dalam masa pemerintahan raja-raja Akhmania (550-530 SM).

1. Timur Jauh
Yang termasuk wilaya timur jauh ialah China, India, dan Jepang. Di India berkembang filsafat spiritualisme, Hinduisme dan Buddhisme. Sedangkan di jepang berkembang Shintoisme, begitu juga china berkembang Taoisme dan konfusianisme (Gazalba, 1986:60). 

a. Hindu
Hindu adalah konsep karma yang berarti setiap individu telah dilahirkan kembali secara berulang dalam bentuk manusia atau binatang sehingga ia menjadi suci dan sempurna sebagai bagian dari jiwa universal (reinkarnasi). Karma tersebut pada akhirnya akan menentukan status seseorang sebagai anggota suatu kasta .
b. Budha
Pencetus agama Buddha ialah Sidarta Gautama (kira-kira 563-483 SM) sebagai akibat dari ketidakpuasannya terhadap penjelasan para guru Hinduisme tentang kejahatan yang sering menimpa manusia. Setelah melakukan hidup bertapa dan meditasi selama enam tahun, secara tiba-tiba dia menemukan gagasan dan jawaban dari pertanyaannya. Gagasan-gagasan itulah yang kemudian menjadi dasar agama Hindu (Sanuel Smith, 1986:12).
c. Taoisme
Pendiri Taoisme ialah Lao Tse, lahir pada tahun 604 SM. Tulisannya yang mengandung makna filsafat adalah jalan Tuhan atau sabda Tuhan, Tao ada dimana-mana, tetapi tidak berbentuk dan tidak pula diraba, tidak dapat dilihat dan didengar. Manusia harus hidup selaras dengan Tao dan harus bisa menahan nafsunya sendiri. 
d. Shinto
Shinto merupakan salah satu kepercayaan yang banyak dipeluk masyarakat jepang. Sejak abad ke 19 Shinto telah mendapat status agama resmi Negara, yang menitik beratkan pemujaan alam dan pemujaan leluhur. Agama Shinto memiliki banyak upacara keagamaan.

2. Timur Tengah
a. Yahudi
Yahudi berasal darinama seorang putra Ya’kub, Yahuda, putra ke empat dari 12 orang bersaudara. Pemikiran-pemikiran filsafat Timur Tengah muncul sekitar 1000-150 SM.
b. Kristen
Pengikut agama Kristen pada waktu itu tidak ubahnya seperti pengikut agama lain, yaitu dari golongan rakyat jelata. Setelah berkembang, pengikutnya pun merambah ke kalangan atas, ahli pikir (filosof) dan kemudian para pemikir. Atas kemajuannya, zaman ini disebut zaman patristic.

 3. Romawi dan Yunani : Antromorpisme
Antromorpisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sifat Tuhan (Pencipta) dengan sifat yang ada pada manusia (yang diciptakan).

Reaksi Terhadap Spiritualisme di Yunani
Spiritualisme merupakan suatu aliran filsafat yang mementikan kerohanian, lawan dan materialisme (Poerdarminta, 1984:963). Karena itu spiritualisme mendasari semua yang ada di alam terdiri dari ruh, sukma, jiwa yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruangan. Jiwa mempunyai kekuatan dan dapat melakukan tanggapan (voorsteling) atau sesuatu yang bukan berasal dari tangkapan panca indera, yang datang secara tiba-tiba berbentuk gambaran. Dengan kata lain jiwa adalah alat untuk menerima sesuatu yang bersifat non-materi yang tidak bercampur dengan tangkapan-tangkapan pancaindera lahiriyah. Jiwa ini menangkap angan-angan yang murni dan alami pada lapangan metafisis (Suryadipura, 1994:105). 

Namun demikian , ternyata ada beberapa filosof yang merasa kurang puas dengan aliran spiritualisme yang dianggap tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Maka lahirlah aliran materialisme. Diantara tokohnya adalah Leukipos dan Demokritus (460-370 SM), yang menyatakan semua kejadian alam adalah atom, dan semuanya adalah materi. Kemudian lahir pila aliran Rasionalisme Rene Descartes, yang menyatakan bahwa pusat segala sesuatu terletak pada dunia rasio, sementara yang alin adalah objeknya. Demikianlah rangkaian reaksi filosof terhadap aliran spiritualisme. Sebenarnya aliran ini tidak saja bergulir di Yunani , tetapi juga di dunia Barat dan Eropa. 

Pemikiran Filsafat Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan
Suatu pandangan teoritis itu mempunyai hubungan erat dengan lingkungan dimana pemikiran itu dijalankan, begitu juga lahirnya filsafat yunani pada abad ke-6 SM. Bagi orang yunani, filsafat merupakan ilmu yang meliputi semua pengetahuan ilmiah. Di Yunanilah pemikiran ilmiah mulai tumbuh, terutama bidang filsafat pendidikan. 

Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Socrates (470-3 SM)
Dalam sejarah filsafat, Sacrates adalah seorang pemikir besar kuno, yang gagasan filosofis dan metode pengajarannya sangat mempengaruhi teori dan praktik pendidikan di seluruh dunia Barat. Prinsip dasar pendidikan menurut Socrates adalah metode dialektis. Metode ini digunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seseorang belajar berpikir secara cermat untuk menguji coba diri sendiri, dan untuk memperbaiki pengetahuannya.

Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Plato (427-347 SM)
Menurut Plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun warga Negara. Negara wajib memberikan pendidikan pada setiap warga Negara. Namun demikian, setiap peserta didik harus diberi kebebasan untuk mengikuti sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan masing sesuai dengan jenjang usianya. 

Pemikiran Filsafat Pendidikan menurut Aristoteles (367-345 SM)
Menurut Aristoteles agar orang dapat hidup baik maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bimbingan pada perasaan-perasaan yang lebih tinggi, yaitu akal guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya sehingga ia memerlukan dukungan-dukungan perasaan yang lebih tinggi agar diarahkan secara benar. Aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik itu mempunyai tujuan untuk kebahagiaan . Dan kebahagiaan tertinggi adalah hidup spekulatif (Barnadib, 1994:72). 

Aristoteles juga menganggap penting pembentukan kebiasaan pada pendidikan dasar. Pada tingkat pendidikan usia muda itu perlu ditanamkan kesadaran aturan-aturan moral. Baca juga: Aliran Aliran Filsafat Pendidikan Modern

 

Masukkan Kata Kunci Pencarian Anda di Sini